
Gini Kata Psikolog, Depresi Itu Sains, Bukan Hanya Masalah Iman
Gini Kata Psikolog: Depresi Itu Sains, Bukan Hanya Masalah Iman Dengan Berbagai Pernyataan Para Ahli Dalam Menanggapinya. Salam Sejahtera untuk anda yang Peduli Kesehatan Mental! Pernahkah anda mendengar ungkapan bahwa depresi hanyalah masalah kurangnya iman atau kemalasan? Di masyarakat kita, stigma ini sayangnya masih melekat kuat. Dan seringkali membuat penderitanya merasa bersalah dan enggan mencari bantuan. Sudah saatnya kita membongkar mitos berbahaya ini! Gini Kata Psikolog: Depresi bukanlah kekurangan spiritual. Atau sekadar kondisi mood buruk yang bisa di atasi hanya dengan memaksakan diri. Depresi adalah kondisi medis yang memiliki dasar biologis, kimiawi. Dan juga struktural di otak kita. Singkatnya, Depresi Itu Sains, Bukan Hanya Masalah Iman. Mari kita telaah lebih dalam perspektif para ahli psikologi mengenai apa sebenarnya depresi itu.
Gini Kata Psikolog, Depresi Itu Sains, Bukan Hanya Masalah Iman Dengan Berbagai Faktanya
Ketidakseimbangan Neurotransmiter
Hal ini juga karena adanya kondisi kesehatan mental yang melibatkan ketidakseimbangan kimiawi di otak. Salah satu penyebab utama depresi adalah gangguan pada neurotransmiter. Terlebihnya yaitu zat kimia yang membantu sel-sel otak berkomunikasi. Neurotransmitter seperti serotonin, dopamin. Dan juga norepinefrin sangat berperan dalam mengatur suasana hati, energi, motivasi. Serta dengan kemampuan untuk merasakan kesenangan. Serotonin, yang sering di sebut sebagai “hormon kebahagiaan,” membantu menjaga suasana hati. Dan juga tidur yang sehat. Ketika kadar serotonin rendah, seseorang bisa merasa sedih berkepanjangan dan kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya menyenangkan. Serta dengan dopamin berperan dalam sistem penghargaan otak. Kemudian dengan penurunannya dapat menyebabkan rasa kehilangan motivasi. Serta dengan ketidakmampuan merasakan kesenangan.
Riwayat Keluarga Atau Faktor Genetik
Depresi bukan hanya soal kurangnya iman atau kemalasan. Namun melainkan juga di pengaruhi oleh faktor genetik yang di wariskan dalam keluarga. Terlebih para ahli menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan depresi cenderung. Dan juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi. Jika di bandingkan yang tidak memiliki riwayat tersebut. Faktor genetik ini bukan berarti depresi pasti akan muncul. Akan tetapi menunjukkan adanya kerentanan biologis yang memengaruhi cara otak mengatur suasana hati dan respon terhadap stres. Genetik berperan dalam mempengaruhi fungsi neurotransmitter. Dan juga struktur otak yang terkait dengan regulasi emosi. Artinya, variasi tertentu dalam gen dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap ketidakseimbangan kimiawi yang memicu depresi. Namun, faktor genetik biasanya bekerja bersama dengan faktor lingkungan.
Trauma Masa Lalu
Hal ini adalah pengalaman negatif atau menyakitkan yang di alami seseorang dan meninggalkan bekas emosional yang mendalam. Terlebih trauma bisa berupa kekerasan fisik, pelecehan seksual. Dan juga bisa akibat dari pelecehan emosional, kehilangan orang terdekat secara tragis, kecelakaan berat. Serta juga dengan kejadian-kejadian yang sangat mengancam keselamatan dan kesejahteraan seseorang. Menurut psikolog, trauma masa lalu dapat memengaruhi cara otak memproses dan mengelola stres serta emosi. Ketika seseorang mengalami trauma, sistem sarafnya menjadi sangat sensitif dan rentan terhadap stres berikutnya. Terlebih yang membuat otak lebih mudah terjebak dalam pola pikir negatif dan perasaan putus asa. Hal ini dapat memicu munculnya depresi yang tidak hanya bersifat sementara. Akan tetapi bisa bertahan lama jika trauma tidak di tangani dengan baik. Trauma juga dapat menyebabkan perubahan fisiologis di otak.
Tekanan Hidup Berkepanjangan
Hal ini adalah kondisi di mana seseorang mengalami stres yang terus-menerus dan berkepanjangan akibat berbagai masalah dalam kehidupannya. Tentunya seperti kesulitan finansial, beban pekerjaan yang berat, masalah dalam hubungan sosial atau keluarga. Terlebih mungkin karena kehilangan orang terdekat, atau tekanan dari lingkungan sosial. Tekanan ini tidak hanya bersifat sementara. Namun melainkan berlangsung lama tanpa adanya kesempatan cukup untuk beristirahat. Ataupun pulih secara mental dan emosional. Menurut psikolog, tekanan hidup yang berkepanjangan dapat menyebabkan perubahan dalam sistem saraf dan keseimbangan hormon tubuh.